MUSIC BOX11:00 - 14:00    
NOW PLAYING

4 Mitos Soal Kecocokan Hubungan yang Sebaiknya Tidak Kamu Percaya!

BY GIOVANI UNTARI 03 Aug 2022
4 Mitos Soal Kecocokan Hubungan yang Sebaiknya Tidak Kamu Percaya!

Apakah kesalahpahaman kita pada konsep kecocokan menjadi penyebab terbesar banyaknya hubungan percintaan yang gagal saat ini, tanya Paisley Gilmour?


Bagi siapa saja yang berharap mendapatkan pasangan dalam jangka waktu lama, pasti telah familiar dengan konsep kecocokan antar pasangan. Dari sejak fase kencan kamu biasanya sudah mulai menebak apakah orang tersebut "cocok" dengan kamu yang dilihat dari: apakah kamu dan si dia menyukai film yang sama, tertarik menghabiskan akhir pekan dengan melakukan hiking di luar kota, memiliki pandangan politik yang sama, punya habit mengeluarkan uang yang mirip sampai kebiasaan pesta yang tak jauh berbeda.

 

Hal ini secara tidak langsung membawa kita pada konsep "The One": yaitu seseorang yang bisa memenuhi segala keinginan, penuh potensi dan bisa menjadi sahabat, pasangan, bahkan orangtua sekaligus untuk kita. Lantas bagaimana kita bisa tahu apakah sebenarnya telah bertemu dengan orang yang tepat? Jawabannya seringkali kita merasa telah memiliki "chemistry" dengan orang tersebut.


Tetapi asumsi tentang apa yang kita anggap sebuah kecocokan romantis nyatanya mungkin bukan dasar terbaik untuk memutuskan apakah suatu hubungan bisa mendapat 'lampu hijau' untuk terus dilanjutkan. Banyak asumsi bagaimana menjalani sebuah hubungan hanya didasarkan dari mitos yang telah lama beredar atau model hubungan yang dipopulerkan lewat film komedi romantis serta lagu-lagu percintaan.


Dengan banyaknya kebiasaan kita yang tidak melanjutkan kencan kedua dan menurunnya angka pernikahan, bukankah ini waktunya untuk memikirkan kembali apa arti kecocokan dalam hubungan yang sebenarnya?


MITOS 1
Kalian perlu memiliki kesukaan / minat yang sama

Menyukai hal yang sama sebenarnya tidak terlalu berperan penting dalam usaha menciptakan hubungan yang bertahan lama. "Mempunyai kesukaan / minat yang sama juga bisa terasa membosankan dan superficial," tukas Geneviève Zawada-Gresset, seorang matchmaker di Channel 4's Married At First Sight. "Jika Anda selalu berusaha untuk menyamakan kesukaan dengan si dia, ini juga bisa membuat Anda merasa 'tercekik'," tambahnya.


Simone Bose, seorang penasihat hubungan di organisasi Relate juga setuju dan menganggap adalah hal yang sehat apabila para pasangan memiliki hobi yang berbeda satu sama lain. "Selama masih ada satu atau dua hal yang bisa kalian lakukan bersama, memiliki kesukaan dan hobi yang berbeda jelas bukanlah sebuah masalah," tukasnya. Kecocokan lebih tentang menghargai passion satu sama lain dan memberikan ruang bagi mereka untuk melakukan apa yang disukai.


MITOS 2
Kalian harus mirip

Kecocokan kerap disalahartikan menjadi sebuah kemiripan, padahal kamu bisa memiliki kepribadian yang berbeda namun tetap cocok satu sama lain.

"Anda bisa tetap menjadi sosok yang ceria dan tak masalah apabila pasangan Anda adalah sosok yang lebih pendiam dan tidak terlalu suka bersosisalisasi. Itu tidak terlalu penting selama kalian berdua bisa saling melengkapi dan berkembang satu sama lain. Mungkin saja dengan perbedaan sifat tersebut akan ada perubahan positif yang bisa dirasakan dalam hubungan, seperti pasangan Anda yang jadi belajar untuk lebih bersosialisasi atau Anda yang berusaha untuk lebih banyak mendengarkan sebelum bertindak," terang Bose. 

Yang terpenting, tetaplah menjadi diri kamu sendiri! kamu harus diterima dengan baik oleh pasangan tanpa alih-alih si dia ingin mengubah diri, begitu juga sebaliknya," tambah Bose. "Apabila Anda merasa tidak percaya diri atau bodoh saat berada di dekatnya, atau Anda takut akan ditertawakan oleh pasangan, ada sesuatu yang salah dalam hubungan kalian saat ini."




MITOS 3
Kalian harus memiliki pandangan politik yang sama

Tidak, kamu tidak perlu mencari secara detail soal pandangan politik dari sosok pasanganmu kelak. Tetapi perlu diingat bahwa pandangan dan filosofi dalam menjalani hidup adalah hal yang penting!

"Ini mencakup pandangan Anda soal keluarga, prinsip menjalani hidup, cara mengeluarkan uang, dan bagaimana memperlakukan orang lain," jelas Bose.

Zawada-Gresset ikut menambahkan apabila kecocokan yang sesungguhnya adalah saat tujuan kamu  berada di posisi yang sejajar dengan pasangan. "Apabila Anda mendapat pasangan yang memiliki ambisi terlalu tinggi atau justru sebaliknya ia adalah sosok yang tidak berambisi sama sekali, itu juga bisa menjadi faktor penyebab kegagalan suatu hubungan. Bisa dibilang level ambisi kalian haruslah cocok satu sama lain."


MITOS 4
Semuanya bergantung pada chemistry

Ini waktunya bagi kita untuk berhenti mencari arti dari istilah "chemistry" yang sesungguhnya. Menurut Dr Amir Levine, seorang ahli saraf, terapis, dan penulis buku Attached, hal yang sering kita anggap "spark" sebenarnya merupakan "sebuah sistem biologis yang terjadi karena rasa ketertarikan, bukan sebagai sebuah penanda kecocokan."

Di sisi lain, menggunakan chemistry untuk mengukur apakah orang tersebut cocok atau tidak dengan Anda juga "sangat berisiko", ujar Dr Meg-John Barker, seorang psikolog akademis dan penulis dari buku The Psychology Of Sex.

"Untuk beberapa waktu, respons kimiawi yang besar tersebut menon-aktifkan sejenak rasa takut, malu, dan perasaan rumit lainnya. Ini yang membuat kita merasa 'jatuh cinta', aman dan bahagia. Hal itu juga terjadi karena respons survival kita ikut menurun untuk sementara waktu," jelasnya.

Saat periode bahagia tersebut berakhir maka barulah "masalah" muncul. "Hubungan bisa mulai mengarah kepada nafsu yang berlebihan dan ini yang membuatnya jadi tidak bertahan lama," ujar Zawada-Gresset. Daya tarik sebenarnya juga bisa tumbuh seiring berjalannya waktu, jadi istilah "spark" dalam hubungan tidaklah terlalu penting. Justru, persahabatan yang kuat dapat menjadi dasar yang lebih solid untuk menciptakan hubungan yang sehat dan bertahan lama.




(Artikel disadur dari Cosmopolitan UK edisi November - Desember 2020 dengan judul 'The Compatibility Myth' / Penulis: Paisley Gilmour / Alih Bahasa : Giovani Untari / Images: Dok. Becca Tapert on Unsplash, Toa Heftiba on Unsplash, joyce huis on Unsplash).


0 REACTIONS

Comments

Leave A Comment

POST COMMENT
What are you looking for?
Content of the popup
CLOSE